Hemat Biaya Produksi dengan metode FIFO, LIFO, FEFO, dan Average

Hemat Biaya Produksi dengan metode FIFO, LIFO, FEFO, dan Average

id8 min read • 166 views

Hemat Biaya Produksi dengan metode FIFO, LIFO, FEFO, dan Average

kalkulasi biaya produksi

Dalam dunia produksi, efisiensi biaya menjadi fokus utama bagi perusahaan untuk mempertahankan daya saingnya. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah pengelolaan persediaan dengan metode FIFO, LIFO, FEFO, dan Average. Artikel ini akan membahas secara mendalam keempat metode tersebut serta bagaimana penerapannya dapat mengoptimalkan pengeluaran dan meminimalkan pemborosan dalam rantai produksi. Dengan memahami prinsip-prinsip dasar dan kelebihan masing-masing metode, perusahaan dapat menyesuaikan strategi manajemen persediaan mereka untuk mencapai efisiensi maksimal dalam hal biaya produksi.

 

 

Apa yang Dimaksud dengan Metode FIFO?

Metode FIFO, atau First In First Out, merujuk pada pendekatan dalam manajemen persediaan di mana bahan baku yang pertama kali masuk ke gudang adalah yang pertama kali digunakan dalam proses produksi. Dengan kata lain, stok yang lebih lama akan diambil terlebih dahulu sebelum stok yang baru masuk.

Tujuan utama dari penerapan metode FIFO adalah memastikan rotasi stok yang efisien, sehingga produk yang dihasilkan dapat segera dijual tanpa penumpukan yang berlebihan di gudang. Metode ini sangat sesuai untuk industri makanan dan minuman, obat-obatan, serta produk dengan masa kedaluwarsa, di mana kecepatan sirkulasi barang sangat krusial.

Selain itu, perusahaan yang menggunakan metode FIFO perlu mempertimbangkan faktor-faktor tambahan seperti pemberian diskon, barang yang ditukar, dan fluktuasi harga. Dengan memahami dan mengelola aspek-aspek ini, perusahaan dapat mengoptimalkan proses persediaan mereka dan meningkatkan efisiensi dalam rantai produksi.

Baca Juga : Bisnis Olahan Mie Instan

Apa yang Dimaksud dengan Metode LIFO?

Selain metode FIFO, ada pula metode LIFO yang sering diterapkan dalam manajemen persediaan bahan baku. LIFO merupakan kependekan dari Last In First Out, yang berarti perusahaan menggunakan stok bahan baku terakhir yang masuk ke gudang sebagai prioritas keluar. Berbeda dengan FIFO, metode ini memiliki dampak yang signifikan terutama dalam konteks harga dan nilai persediaan.

Metode LIFO seringkali dipilih oleh perusahaan untuk menghadapi situasi di mana terjadi kenaikan harga bahan baku. Dengan menggunakan stok bahan baku terakhir, perusahaan dapat mencatat biaya produksi yang lebih tinggi, sehingga dapat mengurangi laba kena pajak. Meski demikian, penerapan LIFO memerlukan pemantauan yang cermat terhadap perubahan harga serta dapat menyulitkan analisis persediaan dalam situasi inflasi.

Perbedaan antara FIFO dan LIFO membuka ruang untuk pemilihan metode yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing perusahaan. Pemahaman mendalam terhadap kedua metode ini dapat membantu perusahaan mengoptimalkan strategi manajemen persediaan mereka sesuai dengan dinamika pasar dan industri yang dihadapi.

Jangan Lupa Baca : Ide Bisnis Otomotif

Apa yang Dimaksud dengan FEFO?

FEFO, atau First Expired First Out, adalah metode manajemen persediaan yang memprioritaskan penggunaan produk yang pertama kali mendekati masa expired. Dengan kata lain, perusahaan yang menerapkan metode FEFO akan menjual atau menggunakan barang yang memiliki masa kedaluwarsa terdekat lebih dulu.

Metode ini terutama relevan dalam industri farmasi, makanan dan minuman, serta bidang lain yang melibatkan produk dengan masa expired. Penggunaan FEFO bertujuan untuk menghindari pemborosan dan kerugian karena produk yang kedaluwarsa, sehingga memastikan bahwa produk yang masih layak konsumsi atau penggunaan dapat diprioritaskan. Dengan penerapan FEFO, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi manajemen persediaan dan meminimalkan risiko kerugian akibat barang yang sudah tidak dapat digunakan.

 

Apa itu Average ?

Average, dalam konteks manajemen persediaan, merujuk pada metode yang melibatkan penjualan barang dengan menggunakan harga rata-rata per unit, dihitung dengan membagi total nilai stok yang tersedia dengan jumlah unitnya. Metode Average menggabungkan elemen dari FIFO dan LIFO, di mana persediaan akhir dan beban pokok penjualan dihitung berdasarkan rata-rata stok yang tersedia.

Penerapan metode Average tidak memperhatikan urutan masuk atau keluarnya barang dari gudang, fokusnya adalah pada nilai rata-rata dari seluruh stok yang ada. Jenis produk seperti minyak, gandum, dan bijih besi sering menggunakan metode ini karena karakteristiknya yang kurang dipengaruhi oleh perbedaan kualitas atau karakteristik antar unit. Metode Average memberikan fleksibilitas dalam menilai stok dan dapat menjadi pilihan yang efektif terutama untuk industri dengan persediaan homogen.

 

Cara Menghitung Biaya Produksi

Metode FIFO (First In First Out):

Dalam sistem manajemen persediaan, metode FIFO menjadi strategi yang umum digunakan oleh perusahaan untuk menghitung nilai persediaan akhir. Pada contoh yang diberikan, perusahaan XXX membeli 30 unit HP dengan harga Rp2,5 juta per unit, dan kemudian membeli tambahan 20 unit dengan harga Rp2 juta per unit.

Langkah-langkah Perhitungan:

 

  1. Harga Persediaan Akhir:
  •    Mengidentifikasi harga pembelian terakhir (Rp2 juta per unit).
  •    Mengalikan jumlah sisa stok (20 unit) dengan harga tersebut.
  •    Hasilnya adalah nilai persediaan akhir sebesar Rp40 juta.

Metode FIFO mendasarkan perhitungannya pada prinsip barang yang pertama masuk adalah yang pertama keluar, sehingga nilai persediaan akhir dihitung berdasarkan harga pembelian terakhir.

 

Metode LIFO (Last In First Out):

Di sisi lain, metode LIFO juga memiliki peran penting dalam manajemen persediaan. Pada kasus ini, kita masih menggunakan contoh perusahaan XXX dan HP yang dibeli.

Langkah-langkah Perhitungan:

 

  1. Harga Persediaan Akhir:
  •    Mengidentifikasi harga pembelian pertama (Rp2,5 juta per unit).
  •    Mengalikan jumlah sisa stok (20 unit) dengan harga tersebut.
  •    Hasilnya adalah nilai persediaan akhir sebesar Rp50 juta.

Metode LIFO, berkebalikan dengan FIFO, mengutamakan barang yang terakhir masuk sebagai yang pertama keluar. Oleh karena itu, nilai persediaan akhir dihitung berdasarkan harga pembelian pertama.

 

Dengan pemahaman yang lebih mendalam terhadap metode FIFO dan LIFO, perusahaan dapat memilih strategi manajemen persediaan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik industri mereka.

 

Metode FEFO (First Expired First Out):

Dalam konteks manajemen persediaan, metode FEFO menjadi pendekatan yang sangat penting, terutama bagi perusahaan yang memiliki produk dengan masa kedaluwarsa. Pada contoh perusahaan XYZ yang memproduksi obat-obatan, FEFO menjadi kunci strategi untuk mengoptimalkan penjualan dan meminimalkan kerugian akibat produk yang kadaluwarsa.

Langkah-langkah Perhitungan:

 

  1. Pengelolaan Sisa Persediaan:
  •    Mengidentifikasi sisa persediaan pada tahun 2023 (20 obat) dan pada tahun 2024 (10 obat).
  •    Memastikan bahwa obat yang akan expired lebih dulu digunakan terlebih dahulu.
  •    Mengalikan jumlah tersebut dengan harga jual masing-masing tahun.
  •    Hasilnya adalah nilai persediaan akhir sebesar Rp260 ribu + Rp100 ribu = Rp360 ribu.

Metode FEFO memberikan prioritas kepada barang yang akan expired lebih awal, sehingga perusahaan dapat mengurangi risiko kehilangan nilai stok akibat masa kedaluwarsa.

 

Metode Average:

Metode Average atau rata-rata adalah pendekatan yang mencerminkan nilai tengah dari biaya produksi per unit. Pada contoh perusahaan XYZ, di mana obat-obatan dengan tanggal kedaluwarsa diproduksi, perhitungan Average memerlukan beberapa langkah.

Langkah-langkah Perhitungan:

 

  1. Penentuan Harga Per Produk:
  •    Menjumlahkan total biaya produksi (Rp8 ribu x 30 obat + Rp10 ribu x 50 obat).
  •    Membagi total biaya tersebut dengan jumlah total produk (30 obat + 50 obat).
  •    Hasilnya adalah nilai harga per produk sebesar Rp9.250.

 

  1. Penilaian Persediaan Akhir:
  •    Mengidentifikasi sisa persediaan (10 obat) pada akhir periode.
  •    Mengalikan jumlah tersebut dengan nilai harga per produk.
  •    Hasilnya adalah nilai persediaan akhir sebesar Rp92.250.

Penerapan metode Average tidak hanya memberikan gambaran rata-rata biaya produksi, tetapi juga memudahkan perusahaan dalam menentukan nilai stok yang akurat dan konsisten.

Dengan menggabungkan metode FEFO dan Average, perusahaan dapat mengembangkan strategi manajemen persediaan yang lebih holistik, meningkatkan efisiensi operasional, dan meraih keuntungan yang lebih besar dalam lingkungan bisnis yang dinamis.

Series: Business
Published on March 28, 2024
Last updated on April 21, 2024

If you like this post and want to support us, you can support us via buymeacoffee or trakteer.